Erupsi Beruntun Gunung Berapi Aikbat Rekayasa Teknologi. Pakar: Mengabaikan Sains.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa anggapan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia, termasuk Gunung Anak Krakatau, dipicu oleh rekayasa teknologi tidak masuk akal jika ditinjau dari ilmu kebumian. Pernyataan tersebut disampaikan Daryono melalui keterangan tertulis pada Selasa (8/9/2026).

Menurut Daryono, energi yang memicu erupsi berasal dari dinamika mantel Bumi yang berada pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer. Erupsi terjadi ketika magma bergerak naik karena memiliki densitas lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya. Proses tersebut juga disertai akumulasi tekanan gas, seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

Tekanan di dalam kantong magma dapat mencapai ratusan MegaPascal. Karena itu, menurut Daryono, tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang mampu menembus kerak Bumi hingga kedalaman tersebut untuk secara sengaja mengubah tekanan fluida silikat di dalamnya.

Aktivitas vulkanik yang terjadi secara beruntun juga dapat dijelaskan oleh posisi Indonesia di kawasan Cincin Api atau Ring of Fire. Indonesia berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama, yakni Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng benua turut membawa air dan sedimen basah ke dalam mantel Bumi. Proses ini memicu pelelehan batuan mantel dan menghasilkan pasokan magma yang berlangsung selama jutaan tahun.

Daryono menjelaskan, ketika aktivitas tektonik regional meningkat atau terjadi penyesuaian tegangan di kerak Bumi setelah gempa besar, beberapa gunung api yang kantong magmanya sudah berada dalam kondisi kritis dapat mengalami erupsi dalam waktu yang hampir bersamaan. Fenomena tersebut merupakan respons berantai dari proses tektonik alamiah, bukan akibat campur tangan pihak tertentu.

Ia juga menekankan bahwa erupsi gunung api didahului berbagai tanda atau prekursor geofisika. Letusan tidak terjadi secara tiba-tiba seperti dikendalikan oleh sebuah tombol otomatis. Sebelum erupsi, instrumen dapat merekam aktivitas seismik berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor yang muncul akibat rekahan batuan ketika magma bergerak menuju permukaan.

Selain aktivitas gempa, instrumen geodesi seperti GPS dan tiltmeter dapat mendeteksi deformasi atau pembengkakan tubuh gunung api jauh sebelum letusan. Kondisi tersebut biasanya disertai perubahan konsentrasi gas kimia dan peningkatan suhu. Akumulasi massa serta energi di dalam kerak Bumi berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dan dapat terekam oleh berbagai instrumen geofisika.

Dari sisi hukum fisika, Daryono menjelaskan bahwa lapisan batuan padat dengan ketebalan puluhan kilometer dapat meredam gelombang elektromagnetik dalam jarak yang sangat pendek. Dengan demikian, tidak terdapat mekanisme fisik yang memungkinkan sinyal buatan manusia menggerakkan magma yang berada jauh di dalam Bumi.

Ia juga menegaskan bahwa manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma yang suhunya dapat mencapai sekitar 1.200 derajat Celsius.

Karena itu, narasi yang menghubungkan erupsi sejumlah gunung api secara beruntun dengan rekayasa teknologi dinilai sebagai disinformasi yang mengabaikan prinsip dasar ilmu pengetahuan. Aktivitas vulkanik di Indonesia merupakan konsekuensi alami dari dinamika geologi Bumi yang terus bergerak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *